Minggu, 14 Februari 2016

Harapan Jaya

PO.Harapan Jaya sudah  berdiri sejak tahun 1977, PO Harapan Jaya didirikan oleh Almarhum Harjaya Cahyana. Pada awal berdirinya di tahun 1977 PO Harapan Jaya hanya mengoprasikan Bus 3 armada bus saja.Dengan trayek bus Surabaya – Kediri – Tulungagung. PP.
Tak berhenti hanya cukup di situ saja, PO Harapan Jaya terus mengembangkan sayap sayap bisnis transportasinya, PO harapan jaya Mulai merambah trayek jakarta – Tulungagung. PP di tahun 1993.
Sampai saat ini rute rute yag di layani oleh pihak PO Harapan Jaya semakin beragam, dari Antar kota dalam Profinsi sampai Antar kota Antar Profinsi. Diantaranya bus surabaya melayani Tulungagung – Surabaya PP. Bus malam PO harapan Jaya melayani rute Blitar – Cikarang – Bekasi – Jakarta – Bogor – Tangerang.
Selain melayani bus siang dan bus malam PO Harapan Jaya juga merambah ke Transportasi Bus Pariwisata, Bus Pariwisata milik PO harapan Jaya melayani pariwisata diantaranya menuju Sumatra – Jawa – Bali – Lombok.
Dengan armada Longchasis mesin rangka dan karoseri terbaru, PO Harapan Jaya terus berusaha meningkatkan kualitas layanan transportasi Bus malam, siang dan Pariwisata. Selamat mencoba Bus PO harapan Jaya.  Sekian Sejarah PO harapan Jaya.
Kantor Pusat     : Jl. Mayor Sujadi 23A, T. Agung -Jawa Timur
(0355) 321620, 321624, 327575
Kantor Cabang   : Jl. Raya Ngawi RT 16 RW 03, Maospati–Jawa Timur  (0351) 868931
: Jl. Raya Tengah 34-35(Caglak) kelurahan Gedong -

Kamis, 11 Februari 2016

Sejarah Po Bis di Indonesia

Efisiensi
 
Bus AKAP Patas Purwokerto – Jogja
Bus AKAP Patas Cilacap – Jogja
Bus Pariwisata dan Jasa Layanan Pariwisata
Sejarah singkat lahirnya PO EFISIENSI (diambil dari Facebook Efisiensi Lovers)
Meneruskan usaha keluarga warisan sang kakek, yakni usaha kursus setir mobil dan montir. Sang kakek, (Alm) Teuku Muhammad adalah guru sekolah teknik Belanda yang juga membuka kursus mengemudi dan montir yang diberi nama “EfficiĆ«ntie” yang cukup kondang di Kebumen saat itu.
Akhirnya pak Eri Memulai usaha bus dengan merintis usaha bus tahun 1996 dengan menggunakan bis micro (bis ¾) dan hanya menggarap segmen pariwisata, Efisiensi mencoba memanfaatkan peluang bus pariwisata yang saat itu cukup ramai. Seiring perjalanan waktu, bis-bis pioneer yang berukuran ¾ mulai dijual karena animo masyarakat terhadap bis ¾ kurang bagus. Akhirnya diputuskan bahwa Efisiensi akan fokus di bigbus saja.

Itulah sepenggal cerita yang disampaikan oleh Pak Eri, mengawali cerita seru tentang kiprah PO Efisiensi saat Bismania Community melalui BMC Jogja berusaha memenuhi undangan dari pak Eri untuk berkunjung ke PO Efisiensi di Rest Area Wonosari – Kebumen. Dengan sapaan hangat dan guyonan segar khas beliau, beliau memenuhi segala pertayaan rekan BMC dan tidak segan membagi ilmu kepada seluruh rekan yang hadir saat itu.
Tahun 1998, Effisiensi pernah mencoba membuka trayek Sumatra yakni jurusan Jogja – Liwa (Bekerjasama dengan HS) dan ke Bengkulu (bekerjasama dengan Bengkulu Indah). Tetapi trayek Sumatra ini tidak bertahan lama karena pertimbangan faktor ekonomi Indonesia yang memburuk pada kisaran tahun itu akibat krisis moneter dan juga sempat pernah menang tender Caltex dalam sewa bis antar jemput Karyawan. Akhirnya bisnis di Sumatera ditutup karena tidak menguntungkan secara ekonomis.
Setelah tahun 2002 Efisiensi mulai memasuki trayek regular dengan membuka patas Jogja – Cilacap. Kemudian Tahun 2008 Juni, dibuka trayek Patas Jogja – Purwokerto.
Karena saat ini membidik pasar menengah ke atas ini, Efisiensi berusaha memanjakan penumpang sedemikian rupa. Selain membangun rest area yang sangat bersih dan nyaman, saat ini Efisiensi telah memberikan akses kemudahan bagi para penumpangnya dengan memberikan layanan hantar gratis di area tertentu di Yogyakarta, Purwokerto, dan segera menyusul di Cilacap.

Po.Haryanto

Kisah Haryanto merintis perusahaan angkutan PO Haryanto..
Merantau ke Jakarta tanpa uang dan pendidikan, Haryanto akhirnya melamar sebagai anggota TNI. Setelah 20 tahun mengabdi di kesatuannya dengan pangkat terakhir kopral, beliau justru sukses berbisnis angkutan umum.
Kini penghasilannya tak kalah dengan para jenderal. Berkat ketekunan, keuletan, dan tentu saja garis keberuntungan yang tergores di tangannya, Haryanto akhirnya memetik buah usahanya.
Bagi Haji Haryanto ini disiplin memang bukan hal aneh. Maklum, beliau adalah mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Jangan pandang sebelah mata. Kariernya di TNI memang berakhir saat beliau berpangkat kopral. Tapi, Haryanto benar-benar sukses mengelola bisnis.
Saat ini beliau memiliki 83 bus eksekutif yang melayani jalur Jakarta-Kudus, Pati, Jepara, Ponorogo dan Madura Selain itu, ia juga memiliki 150 unit angkutan kota (angkot) yang merajai seluruh trayek di Tangerang serta memiliki show room mobil. Haryanto sendiri sebenarnya tak pernah menyangka ia akan menjadi pengusaha. Pasalnya, ia terlahir sebagai anak desa di Kudus, Jawa Tengah. Orang tuanya hanyalah buruh tani yang punya kerja sambilan sebagai tukang memisahkan tulang dan daging ikan di pasar.
Adapun Haryanto, sejak kecil dididik untuk bekerja keras, mulai dari menggembala sapi milik tetangga, berjualan es atau sebagai tukang ngarit demi menambah penghasilan bagi kelangsungan hidup keluarganya. Maklum, keluarganya adalah keluarga besar. Haryanto adalah anak keenam dari sebelas bersaudara.Meski ulet, ternyata Haryanto cukup bandel. Buktinya, beliau tidak menyelesaikan sekolahnya di bangku Sekolah Teknik Menengah (STM) lantaran merasa tidak cocok. beliau lalu kabur dari rumah dan hijrah ke Tangerang. "Saya akan mengubah nasib," begitu tekadnya waktu itu.Berbekal tekad dan semangat yang kuat, di Tangerang Haryanto lalu mendaftar sebagai anggota TNI.
Sejak kecil Haryanto memang bercita-cita bisa berseragam loreng sambil memanggul senjata. Cita-citanya itu akhirnya kesampaian juga. Tahun 1979 beliau mulai bekerja di kesatuan angkatan udara Kostrad di Tangerang. "Saya dididik jadi pengemudi, tugas saya mengangkut alat-alat berat, meriam, beras untuk konsumsi dan perminyakan," kenang Haryanto. Penghasilan yang beliau kantongi waktu itu sekitar Rp 18.000 per bulan.
Bekerja sambilan jadi sopir angkot karena sudah bekerja dan mengantongi gaji, pada 1982 Haryanto memberanikan diri untuk menikah. Tapi, gaji belasan ribu yang diterimanya tiap bulan itu ternyata tak cukup untuk menambal semua kebutuhan hidupnya. Bahkan, rumah sewa berukuran 3 x 4 meter yang beliau huni bersama dengan istrinya tak mampu ia bayar. "Untuk membayar sewa rumah saja saya utang," kenangnya. Kepepet dengan kondisi keuangan yang minim inilah yang justru mempertebal semangat Haryanto untuk mulai mencari usaha sampingan. Pada 1984, dengan modal uang tabungan kurang dari Rp 1 juta, Haryanto nekat membeli satu unit mobil angkutan kota (angkot) buatan Daihatsu.beliau pun lalu menjadi sopir bagi kendaraan pribadinya yang berpelat kuning. Waktu itu rute yang ia tempuh Pasar Anyar-Serpong. "Dulu masih kebun karet, jalannya juga enggak sebagus sekarang," paparnya.
Di sela-sela waktu bekerja sebagai sopir kendaraan militer di kesatuannya, Haryanto pun meluangkan waktunya untuk menyopiri angkotnya. Saban hari beliau menyopir angkotnya pada pukul 15.00-16.00, kemudian bekerja di Kostrad hingga pukul 19.00. Selepas pukul 22.00, ia mulai mengemudikan angkotnya lagi hingga dini hari. Suka tidak suka, Haryanto harus mengurangi waktu tidurnya demi menafkahi istri dan ketiga anaknya.Berkat rajin menyopiri angkotnya, tahun-tahun berikutnya Haryanto terus membeli angkot dari uang yang ia sisihkan.
Modal untuk membeli angkot juga didapatnya dari hasil kerja sambilannya yang lain, sebagai perwakilan bus PO Sumber Urip yang ia tekuni sejak 1990-2000. Angkotnya terus beranak-pinak hingga puluhan dan terus bertambah menembus angka 100 unit. "Insya Allah sekarang saya telah memiliki jalur angkot hampir seluruh Tangerang," ungkapnya penuh syukur. Saat ini sekitar 150 angkot ada dalam daftar asetnya. Dari usaha angkotnya saja, jutaan rupiah berhasil beliau kantongi setiap hari.Tapi, Haryanto bukan orang yang gampang berpuas diri. Tahun 1990 ia membuka satu gerai showroom mobil di Tangerang yang khusus menjual angkot dari beragam karoseri. Gerai ini tak membutuhkan modal yang banyak, Haryanto hanya menyiapkan lahan bagi mereka yang ingin menjual angkotnya. "Modalnya hanya kepercayaan," tukas Haryanto. Showroom ini pun cukup laris, setiap bulan sekitar 20-30 unit mobil berhasil beliau jual.Pensiun dari kopral, gajinya jenderal karena putaran roda bisnisnya semakin kencang, Haryanto pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kesatuannya di militer.
Kendati usianya baru 43 tahun, tahun 2002 lalu, ia melayangkan surat pengunduran diri. "Saya enggak dapat pesangon, tapi dapat pensiun Rp 800.000 per bulan," ujarnya.Sejak pensiun itulah Haryanto justru sibuk dengan mainan barunya, yaitu PO Haryanto yang dirintisnya pada tahun yang sama. Waktu itu Haryanto mendapat kucuran kredit dari Bank BRI sekitar Rp 3 miliar. Uang itu ia gunakan untuk membeli enam unit bus senilai masing-masing Rp 800 juta. "Pinjaman itu saya pakai untuk uang muka beli bus," katanya.Semula Haryanto mengoperasikan busnya untuk rute Cikarang-Cimone kelas non-AC alias ekonomi.
Sayangnya, bus jurusan tersebut sepi penumpang. Maka, ia mengalihkan ke bus eksekutif yang ber-AC dan membuat rute baru yang tujuannya tak jauh dari kampung halamannya, yaitu Jakarta-Kudus, Jakarta-Jepara, dan Jakarta-Pati. Demi menjaga kualitas, Haryanto mendidik sopir-sopirnya agar tidak ugal-ugalan dan diprotes penumpang. Walau sudah menjadi juragan, Haryanto pun tak segan-segan setiap hari nongkrong di terminal, memeriksa sendiri kondisi bus-busnya sambil mendengarkan keluhan penumpang.

Dari putaran roda bisnis di bisnis beragam angkutan penumpang ini, Haryanto kini menangguk pendapatan yang lumayan. Karyawannya pun kini telah mencapai 500 orang. "Saya enggak nyangka sekarang bisa menjadi pengusaha," ungkap Haryanto. Sebagai pengusaha, tentu saja penghasilan pensiunan kopral itu tak kalah dengan para jenderal.
Mengongkosi Sopir ke Tanah SuciPergi ke tanah suci adalah impian Haryanto, pemilik PO Haryanto. Itu sebabnya, ia selalu menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya. Berkat uang hasil tabungannya itulah, pada 1997, akhirnya ia bisa berangkat ke tanah suci bersama orang tua dan istrinya. Sejak kakinya menginjakkan tanah suci itulah ia berjanji pada dirinya untuk menjalankan bisnis ini dengan sungguh-sungguh. "Alhamdulillah saya bisa ke Mekkah juga dari hasil usaha angkot," ujarnya.
Haryanto agaknya sadar betul bahwa usahanya tak akan berhasil tanpa campur tangan Yang di Atas. Itu sebabnya, ia berikrar akan memberangkatkan sopir-sopirnya ke Tanah Suci. Maka dari itu, setiba dari Mekkah, kendati harga dolar sedang mahal-mahalnya, Haryanto memenuhi janjinya pada diri sendiri untuk memberangkatkan karyawannya naik haji. Kesempatan pertama itu ia hadiahkan pada satu orang sopir yang telah setia bekerja padanya. "Dia sopir pertama yang saya berangkatkan ke tanah suci," ujarnya.
Tradisi memberangkatkan karyawannya itu terus ia pelihara hingga sekarang. Bagi karyawan yang taat dan tekun beribadah, Haryanto tak segan-segan membagi tiket untuk beribadah ke Mekkah.

Scorpion Holidays

Terima kasih dan puji syukur kehadirat ALLAH SWT.
Bermula dari usaha CV. Pijar Utama didirikan pada tahun 2007 yang didirikan oleh Firman Fathul Rochman sebagai Komisaris Utamanya dengan usaha di bidang pengadaan barang dan jasa. Usaha awalnya yaitu order pengadaan barang ke kantor-kantor dan pabrik di daerah Bekasi dan Jakarta Raya.
“Sambil menyelam minum air” itulah yang  dialami pendiri pada waktu itu, tertarik dengan hobby dan pangalaman yang dimiliki di bidang pariwisata, maka dilanjutkan kembali hobby yang dimilki menjadi bidang usaha. Dengan nama usaha dagang Scorpion Holidays. Sejarah pendirian nama ini berawal dari nama Enyon Tour pada tahun 2006.
Perkembangan Enyon Tour sepanjang tahun 2006 s/d 2008 membuat pendiri usaha ini yaitu Firman Fathul Rochman, SH sangat tertarik dan ingin terus mengembangkan bisnis usahanya di bidang Transportasi dan Pariwisata. Karena pada waktu itu mulai dari tahun 2003 pada saat pendiri masih duduk di bangku kuliah sudah berkecimpung dan menggeluti tentang ilmu transportasi dan pariwisata dengan diawali menjadi karyawan disalah satu Perusahaan Otobus Harum Group.
Di tempatkan di kantor perwakilan Harum Group Jakarta di daerah pasar induk Kramat Jati, yang waktu itu menjadi staff di bagian operasional pengadaan unit. Selang beberapa bulan di tempatkan di bagian keuangan dan merangkap menjadi pemandu wisata (Tour Leader) dibawah pimpinan Bapak Marsa.
Hubungan dengan para owner-owner Harum Group seperti, Bapak Dedi Hasan dan ibu (Sari Harum) dan dilanjutkan  kepada anak-anaknya, Bapak H. Eef dan Ibu Hj. Nung (Harum Prima) dan dilanjutkan kepada anak-anaknya, Bapak H. Herly Hasan dan Ibu Hj. Iyet (Harum BSI) dan dilanjutkan kepada anak-anaknya serta Bapak H. Herdiest (Jayalangit). Serta para karyawan dan crew-crewnya yang membuat semangat dan senang dalam menjalin hubungan silaturahmi menjalankan bisnis usaha ini. Sesuai dengan moto : “senyum diperjalanan, santun berwisata, dan sabar dalam menjalankan kegiatan adalah kepuasan anda bersama Scorpion Holidays”.
Enyon Tour berkembang pesat pada tahun 2007-2008 dengan program tour yang sangat digemari customer dengan nama program tour “Rock N Roll”, karena pada waktu itu masyarakat sangat ingin sekali berdarmawisata dengan menggunakan transportasi darat dengan harga yang terjangkau dan ekonomis. Dan Enyon Tour hadir di tengah masyarakat yang sangat ingin sekali with Darul Arqombepergian ke luar kota.
Program ini ternyata berhasil dan sangat digemari para customer Enyon Tour mulai dari masyarakat menengah ke bawah sampai dengan masyarakat menengah ke atas. Yang lebih senangnya lagi dari para customer, mereka dapat mengenal tempat/objek wisata dengan menggunakan fasilitas transportasi yang begitu berkelas dan mewah dengan harga yang murah dan terjangkau.
Pada pertengahan 2008 disaat setelah melakukan tour Ziarah walisongo, Enyon Tour tertarik dengan suatu komunitas para penggemar bus yang bertempat di daerah Jakarta yaitu “Jakarta Bus Society” untuk bergabung, dan gayung bersambut seraya sekaligus pembukaan komunitas yang baru berdiri awal bulan juni tersebut.
Dari komunitas yang idependent inilah ternyata banyak sekali ilmu yang didapat yang didasari dengan rasa kekeluargaan dan kental sekali dengan silaturahmi. Alhasil selain dapat ilmu yang bermanfaat, keluarga yang baru dan dengan dorongan untuk maju memacu  hobby dan usaha.
Maka pada awal bulan Februari di lantai 2 sebuah rumah sahabat baik yaitu Wiwid Bachtiar terciptalah nama Scorpion Holidays dibarengi dengan peluncuran website www.scorpion-holidays.com.  Tour “SCORPION HOLIDAYS”  yang 100% armadanya didukung oleh bus dari PO. Harum Group.
 
Di dukung berat oleh kekasih tercinta inilah untuk mengembangkan sayap kalajengking emas ini berada di Garut dan Bekasi dengan misi nya yaitu :  Menjadi penyedia layanan pariwisata yang senantiasa menyediakan kualitas layanan yang prima. Menjadikan perjalanan pariwisata perjalanan yang menyenangkan. Menjadi penyedia layanan pariwisata yang selalu mengedepankan kenyamanan dan keamanan penumpang. Menyediakan bus pariwisata yang nyaman, mewah dan aman dengan harga terjangkau.
Mudah-mudahan kalajengking Emas (Scorpion Holidays) dapat memberikan layanan yang terbaik dan diterima di tengah-tengah masyarakat.
Jazakallahu buat kedua orang tua (H. Soekandar Ghozali dan Aie Chopsoh Dimyatie), Kekasihku tercinta (Heni Maftuhah, S.Psi), rekan-rekan komunitas penggemar bus, dan para pelanggan Scorpion Holidays.

Budiman

Masyarakat Priangan Timur dikenal sebagai masyarakat yang kreatif. Banyak sudah pengusaha-pengusaha sukses yang berasal dari Tasik, Ciamis, Garut, dan sekitarnya. Dan hebatnya, para entrepreneur tersebut berangkat dari keprihatinan. Ada yang berasal dari penjual aci, ada juga yang asalnya kernet angkot.
Kali ini, Kabar Priangan menyajikan kisah sukses para pengusaha besar dari Priangan Timur. Kisah sukses dan perjuangan mereka membangun kerajaan bisnisnya, diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Perusahaan Otobus Budiman saat ini menjelma menjadi salah satu perusahaan transportasi umum terbesar di Kota Tasikmalaya. Dengan jumlah lebih dari 1.000 armada meliputi bus ukuran besar dan sedang, PO Budiman saat ini menjadi salah satu "Raja" transportasi di jawa barat.
Perusahaan yang melayani sekitar 100 trayek dalam provinsi hingga antar provinsi itu menyerap ribuan tenaga kerja. Tak salah jika julukan "Kerajaan Bus" di Priangan Timur melekat di perusahaan yang berdiri pada awal 1990 an ini.
Dibalik gagahnya armada bus yang hilir mudik di jalanan, terdapat sosok Saleh Budiman. Pemilik kerajaan bus itu seperti tak kenal lelah mengurusi manajemen perusahaan yang mulai diestafetkan kepada putra-putranya.
Sang raja yang usianya menginjak lebih dari tiga perempat abad ini hampir setiap hari menghabiskan waktunya mengurusi perusahaan yang berlokasi di Jalan IR Juanda Kota Tasikmalaya itu.
Ketika "KP" hendak menemuinya, salah seorang petugas menunjukan sebuah bangunan yang berada di bagian belakang pool bus. Sesampainya di bangunan itu, seorang sekretarisnya pun langsung menunjukan sebuah ruangan sederhana di bagian belakang bangunan tersebut. "Bapak jarang didepan, biasanya suka di belakang," katanya sembari menunjukan ruangan dekat pul bus sedang.
Ruangan yang ditunjukan itupun tidak seperti ruangan seorang raja yang mewah. Atapnya hanya beralaskan asbes. Ketika terik matahari di siang hari mulai menyengat, udara di ruangan itu pun mulai menghangat. Tak ada alat penyejuk ruangan sekalipun. Di mejanya pun banyak menumpuk kertas coretan berbagai urusan perusahaan.

Di mata pekerjanya, ruangan itupun dianggap lebih baik dari ruangan sebelumnya. Letak ruangan itu memang bersebelahan dengan ruangan yang sering dipakai sehari-hari oleh Saleh Budiman. Lagi-lagi dindingnya hanya berlapiskan bilik dan beratapkan seng.
Lebih mengherankan lagi sosok Saleh Budiman di mata para pekerjanya. Lelaki berusia 83 tahun ini acapkali terlihat ikut memperbaiki bus yang masuk kandang karena perlu perbaikan. Bahkan keperluan untuk membeli onderdilpun masih dilakukannya ketika ada waktu luang. "Nanti saja ya wawancaranya kalau sudah salse. Sekarang mau beli onderdil dulu," kata Saleh, singkat.
Keseharian Saleh Budiman memang penuh dengan kesederhanaan. Menurut para pekerja yang sering mendapatkan tugas langsung darinya, ruangan tersebut sengaja ditempati untuk menghilangkan perbedaan antara pekerja dengan bos. Bahkan tak jarang pula Sang "Raja" ini makan beralaskan daun pisang bersama supir maupun mekanik.
"Waktu itu saja pernah bercerita, makan di rumah makan mewah itu tidak nikmat. Nikmat keneh kieu (berkumpul bersama supir dan mekanik). Bahkan ketika rapat dengan penguruspun suka berbicara bahwa perjuangan membangun perusahaan ini meurih," kata salah seorang sopir.
Hal itu juga tidak dipungkiri salah seorang putranya, Dede Sudrajat. Sebenarnya ruang kerja ayahnya itu telah disediakan dengan fasilitas lengkap beserta sekretarisnya. Namun ruangan tersebut jarang digunakan kecuali menerima tamu-tamu dari perusahaan dan perbankan.
"Ya memang seperti itu ruangan yang digunakan bapak. Tidak ada karpet ataupun AC. Atapnya juga dari asbes. Sementara ruang yang disediakan perusahaan jarang digunakan, kecuali saat-saat tertentu," kata Dede ketika ditemui "KP".
Dede yang menjabat sebagai Wakil Wali Kota Tasimalaya itu pun telah berulangkali mengingatkan ayahnya supaya menggunakan fasilitas yang telah disediakan. Ternyata, di ruangan sederhana itu memberikan kenikmatan bekerja tersendiri bagi Saleh Budiman.
"Bapak lebih suka berjam-jam di lapangan. Mengapa? karena sudah menikmatinya. Katanya supaya lebih mudah membangun komunikasi langsung tanpa struktural. Meski memiliki perusahaan besar, juga tidak berarti penuh dengan kemewahan. Karena bapak dari dulu tidak memprioritaskan kebutuhan barang. Pakaian sederhana, HP juga biasa. Hanya mobil saja yang tergolong mewah. Selebihnya biasa-biasa saja," kata nya. (*)