Efisiensi
Bus AKAP Patas Purwokerto – Jogja
Bus AKAP Patas Cilacap – Jogja
Bus Pariwisata dan Jasa Layanan Pariwisata
Sejarah singkat lahirnya PO EFISIENSI (diambil dari Facebook Efisiensi Lovers)
Meneruskan usaha keluarga warisan sang kakek, yakni usaha kursus setir
mobil dan montir. Sang kakek, (Alm) Teuku Muhammad adalah guru sekolah
teknik Belanda yang juga membuka kursus mengemudi dan montir yang diberi
nama “EfficiĆ«ntie” yang cukup kondang di Kebumen saat itu.
Akhirnya
pak Eri Memulai usaha bus dengan merintis usaha bus tahun 1996 dengan
menggunakan bis micro (bis ¾) dan hanya menggarap segmen pariwisata,
Efisiensi mencoba memanfaatkan peluang bus pariwisata yang saat itu
cukup ramai. Seiring perjalanan waktu, bis-bis pioneer yang berukuran ¾
mulai dijual karena animo masyarakat terhadap bis ¾ kurang bagus.
Akhirnya diputuskan bahwa Efisiensi akan fokus di bigbus saja.

Itulah sepenggal cerita yang disampaikan oleh Pak Eri, mengawali cerita
seru tentang kiprah PO Efisiensi saat Bismania Community melalui BMC
Jogja berusaha memenuhi undangan dari pak Eri untuk berkunjung ke PO
Efisiensi di Rest Area Wonosari – Kebumen. Dengan sapaan hangat dan
guyonan segar khas beliau, beliau memenuhi segala pertayaan rekan BMC
dan tidak segan membagi ilmu kepada seluruh rekan yang hadir saat itu.
Tahun 1998, Effisiensi pernah mencoba membuka trayek Sumatra yakni
jurusan Jogja – Liwa (Bekerjasama dengan HS) dan ke Bengkulu
(bekerjasama dengan Bengkulu Indah). Tetapi trayek Sumatra ini tidak
bertahan lama karena pertimbangan faktor ekonomi Indonesia yang memburuk
pada kisaran tahun itu akibat krisis moneter dan juga sempat pernah
menang tender Caltex dalam sewa bis antar jemput Karyawan. Akhirnya
bisnis di Sumatera ditutup karena tidak menguntungkan secara ekonomis.
Setelah tahun 2002 Efisiensi mulai memasuki trayek regular dengan
membuka patas Jogja – Cilacap. Kemudian Tahun 2008 Juni, dibuka trayek
Patas Jogja – Purwokerto.
Karena saat ini membidik pasar
menengah ke atas ini, Efisiensi berusaha memanjakan penumpang sedemikian
rupa. Selain membangun rest area yang sangat bersih dan nyaman, saat
ini Efisiensi telah memberikan akses kemudahan bagi para penumpangnya
dengan memberikan layanan hantar gratis di area tertentu di Yogyakarta,
Purwokerto, dan segera menyusul di Cilacap.
Po.Haryanto
Kisah Haryanto merintis perusahaan angkutan PO Haryanto..
Merantau ke Jakarta tanpa uang dan pendidikan, Haryanto akhirnya
melamar sebagai anggota TNI. Setelah 20 tahun mengabdi di kesatuannya
dengan pangkat terakhir kopral, beliau justru sukses berbisnis angkutan
umum.
Kini penghasilannya tak kalah dengan para jenderal. Berkat
ketekunan, keuletan, dan tentu saja garis keberuntungan yang tergores di
tangannya, Haryanto akhirnya memetik buah usahanya.
Bagi Haji Haryanto ini disiplin memang bukan hal aneh. Maklum, beliau adalah mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Jangan pandang sebelah mata. Kariernya di TNI memang berakhir saat
beliau berpangkat kopral. Tapi, Haryanto benar-benar sukses mengelola
bisnis.
Saat ini beliau memiliki 83 bus eksekutif yang melayani
jalur Jakarta-Kudus, Pati, Jepara, Ponorogo dan Madura Selain itu, ia
juga memiliki 150 unit angkutan kota (angkot) yang merajai seluruh
trayek di Tangerang serta memiliki show room mobil. Haryanto sendiri
sebenarnya tak pernah menyangka ia akan menjadi pengusaha. Pasalnya, ia
terlahir sebagai anak desa di Kudus, Jawa Tengah. Orang tuanya hanyalah
buruh tani yang punya kerja sambilan sebagai tukang memisahkan tulang
dan daging ikan di pasar.
Adapun Haryanto, sejak kecil dididik
untuk bekerja keras, mulai dari menggembala sapi milik tetangga,
berjualan es atau sebagai tukang ngarit demi menambah penghasilan bagi
kelangsungan hidup keluarganya. Maklum, keluarganya adalah keluarga
besar. Haryanto adalah anak keenam dari sebelas bersaudara.Meski ulet,
ternyata Haryanto cukup bandel. Buktinya, beliau tidak menyelesaikan
sekolahnya di bangku Sekolah Teknik Menengah (STM) lantaran merasa tidak
cocok. beliau lalu kabur dari rumah dan hijrah ke Tangerang. "Saya akan
mengubah nasib," begitu tekadnya waktu itu.Berbekal tekad dan semangat
yang kuat, di Tangerang Haryanto lalu mendaftar sebagai anggota TNI.
Sejak kecil Haryanto memang bercita-cita bisa berseragam loreng sambil
memanggul senjata. Cita-citanya itu akhirnya kesampaian juga. Tahun 1979
beliau mulai bekerja di kesatuan angkatan udara Kostrad di Tangerang.
"Saya dididik jadi pengemudi, tugas saya mengangkut alat-alat berat,
meriam, beras untuk konsumsi dan perminyakan," kenang Haryanto.
Penghasilan yang beliau kantongi waktu itu sekitar Rp 18.000 per bulan.
Bekerja sambilan jadi sopir angkot karena sudah bekerja dan mengantongi
gaji, pada 1982 Haryanto memberanikan diri untuk menikah. Tapi, gaji
belasan ribu yang diterimanya tiap bulan itu ternyata tak cukup untuk
menambal semua kebutuhan hidupnya. Bahkan, rumah sewa berukuran 3 x 4
meter yang beliau huni bersama dengan istrinya tak mampu ia bayar.
"Untuk membayar sewa rumah saja saya utang," kenangnya. Kepepet dengan
kondisi keuangan yang minim inilah yang justru mempertebal semangat
Haryanto untuk mulai mencari usaha sampingan. Pada 1984, dengan modal
uang tabungan kurang dari Rp 1 juta, Haryanto nekat membeli satu unit
mobil angkutan kota (angkot) buatan Daihatsu.beliau pun lalu menjadi
sopir bagi kendaraan pribadinya yang berpelat kuning. Waktu itu rute
yang ia tempuh Pasar Anyar-Serpong. "Dulu masih kebun karet, jalannya
juga enggak sebagus sekarang," paparnya.
Di sela-sela waktu bekerja
sebagai sopir kendaraan militer di kesatuannya, Haryanto pun meluangkan
waktunya untuk menyopiri angkotnya. Saban hari beliau menyopir angkotnya
pada pukul 15.00-16.00, kemudian bekerja di Kostrad hingga pukul 19.00.
Selepas pukul 22.00, ia mulai mengemudikan angkotnya lagi hingga dini
hari. Suka tidak suka, Haryanto harus mengurangi waktu tidurnya demi
menafkahi istri dan ketiga anaknya.Berkat rajin menyopiri angkotnya,
tahun-tahun berikutnya Haryanto terus membeli angkot dari uang yang ia
sisihkan.
Modal untuk membeli angkot juga didapatnya dari hasil
kerja sambilannya yang lain, sebagai perwakilan bus PO Sumber Urip yang
ia tekuni sejak 1990-2000. Angkotnya terus beranak-pinak hingga puluhan
dan terus bertambah menembus angka 100 unit. "Insya Allah sekarang saya
telah memiliki jalur angkot hampir seluruh Tangerang," ungkapnya penuh
syukur. Saat ini sekitar 150 angkot ada dalam daftar asetnya. Dari usaha
angkotnya saja, jutaan rupiah berhasil beliau kantongi setiap
hari.Tapi, Haryanto bukan orang yang gampang berpuas diri. Tahun 1990 ia
membuka satu gerai showroom mobil di Tangerang yang khusus menjual
angkot dari beragam karoseri. Gerai ini tak membutuhkan modal yang
banyak, Haryanto hanya menyiapkan lahan bagi mereka yang ingin menjual
angkotnya. "Modalnya hanya kepercayaan," tukas Haryanto. Showroom ini
pun cukup laris, setiap bulan sekitar 20-30 unit mobil berhasil beliau
jual.Pensiun dari kopral, gajinya jenderal karena putaran roda bisnisnya
semakin kencang, Haryanto pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari
kesatuannya di militer.
Kendati usianya baru 43 tahun, tahun 2002
lalu, ia melayangkan surat pengunduran diri. "Saya enggak dapat
pesangon, tapi dapat pensiun Rp 800.000 per bulan," ujarnya.Sejak
pensiun itulah Haryanto justru sibuk dengan mainan barunya, yaitu PO
Haryanto yang dirintisnya pada tahun yang sama. Waktu itu Haryanto
mendapat kucuran kredit dari Bank BRI sekitar Rp 3 miliar. Uang itu ia
gunakan untuk membeli enam unit bus senilai masing-masing Rp 800 juta.
"Pinjaman itu saya pakai untuk uang muka beli bus," katanya.Semula
Haryanto mengoperasikan busnya untuk rute Cikarang-Cimone kelas non-AC
alias ekonomi.
Sayangnya, bus jurusan tersebut sepi penumpang.
Maka, ia mengalihkan ke bus eksekutif yang ber-AC dan membuat rute baru
yang tujuannya tak jauh dari kampung halamannya, yaitu Jakarta-Kudus,
Jakarta-Jepara, dan Jakarta-Pati. Demi menjaga kualitas, Haryanto
mendidik sopir-sopirnya agar tidak ugal-ugalan dan diprotes penumpang.
Walau sudah menjadi juragan, Haryanto pun tak segan-segan setiap hari
nongkrong di terminal, memeriksa sendiri kondisi bus-busnya sambil
mendengarkan keluhan penumpang.

Dari putaran roda bisnis di
bisnis beragam angkutan penumpang ini, Haryanto kini menangguk
pendapatan yang lumayan. Karyawannya pun kini telah mencapai 500 orang.
"Saya enggak nyangka sekarang bisa menjadi pengusaha," ungkap Haryanto.
Sebagai pengusaha, tentu saja penghasilan pensiunan kopral itu tak kalah
dengan para jenderal.
Mengongkosi Sopir ke Tanah SuciPergi ke
tanah suci adalah impian Haryanto, pemilik PO Haryanto. Itu sebabnya, ia
selalu menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya. Berkat uang
hasil tabungannya itulah, pada 1997, akhirnya ia bisa berangkat ke tanah
suci bersama orang tua dan istrinya. Sejak kakinya menginjakkan tanah
suci itulah ia berjanji pada dirinya untuk menjalankan bisnis ini dengan
sungguh-sungguh. "Alhamdulillah saya bisa ke Mekkah juga dari hasil
usaha angkot," ujarnya.
Haryanto agaknya sadar betul bahwa usahanya
tak akan berhasil tanpa campur tangan Yang di Atas. Itu sebabnya, ia
berikrar akan memberangkatkan sopir-sopirnya ke Tanah Suci. Maka dari
itu, setiba dari Mekkah, kendati harga dolar sedang mahal-mahalnya,
Haryanto memenuhi janjinya pada diri sendiri untuk memberangkatkan
karyawannya naik haji. Kesempatan pertama itu ia hadiahkan pada satu
orang sopir yang telah setia bekerja padanya. "Dia sopir pertama yang
saya berangkatkan ke tanah suci," ujarnya.
Tradisi
memberangkatkan karyawannya itu terus ia pelihara hingga sekarang. Bagi
karyawan yang taat dan tekun beribadah, Haryanto tak segan-segan membagi
tiket untuk beribadah ke Mekkah.
Scorpion Holidays
Terima kasih dan puji syukur kehadirat ALLAH SWT.
Bermula dari usaha CV. Pijar Utama
didirikan pada tahun 2007 yang didirikan oleh Firman Fathul Rochman
sebagai Komisaris Utamanya dengan usaha di bidang pengadaan barang dan
jasa. Usaha awalnya yaitu order pengadaan barang ke kantor-kantor dan
pabrik di daerah Bekasi dan Jakarta Raya.
“Sambil menyelam minum air” itulah yang
dialami pendiri pada waktu itu, tertarik dengan hobby dan pangalaman
yang dimiliki di bidang pariwisata, maka dilanjutkan kembali hobby yang
dimilki menjadi bidang usaha. Dengan nama usaha dagang Scorpion
Holidays. Sejarah pendirian nama ini berawal dari nama Enyon Tour pada
tahun 2006.
Perkembangan Enyon Tour sepanjang tahun
2006 s/d 2008 membuat pendiri usaha ini yaitu Firman Fathul Rochman, SH
sangat tertarik dan ingin terus mengembangkan bisnis usahanya di bidang
Transportasi dan Pariwisata. Karena pada waktu itu mulai dari tahun 2003
pada saat pendiri masih duduk di bangku kuliah sudah berkecimpung dan
menggeluti tentang ilmu transportasi dan pariwisata dengan diawali
menjadi karyawan disalah satu Perusahaan Otobus Harum Group.
Di tempatkan di kantor perwakilan Harum
Group Jakarta di daerah pasar induk Kramat Jati, yang waktu itu menjadi
staff di bagian operasional pengadaan unit. Selang beberapa bulan di
tempatkan di bagian keuangan dan merangkap menjadi pemandu wisata (Tour
Leader) dibawah pimpinan Bapak Marsa.
Hubungan dengan para owner-owner Harum
Group seperti, Bapak Dedi Hasan dan ibu (Sari Harum) dan dilanjutkan
kepada anak-anaknya, Bapak H. Eef dan Ibu Hj. Nung (Harum Prima) dan
dilanjutkan kepada anak-anaknya, Bapak H. Herly Hasan dan Ibu Hj. Iyet
(Harum BSI) dan dilanjutkan kepada anak-anaknya serta Bapak H. Herdiest
(Jayalangit). Serta para karyawan dan crew-crewnya yang membuat semangat
dan senang dalam menjalin hubungan silaturahmi menjalankan bisnis usaha
ini. Sesuai dengan moto : “senyum diperjalanan, santun berwisata, dan
sabar dalam menjalankan kegiatan adalah kepuasan anda bersama Scorpion
Holidays”.
Enyon Tour berkembang pesat pada tahun
2007-2008 dengan program tour yang sangat digemari customer dengan nama
program tour “Rock N Roll”, karena pada waktu itu masyarakat sangat
ingin sekali berdarmawisata dengan menggunakan transportasi darat dengan
harga yang terjangkau dan ekonomis. Dan Enyon Tour hadir di tengah
masyarakat yang sangat ingin sekali with Darul Arqombepergian ke luar
kota.
Program ini ternyata berhasil dan sangat
digemari para customer Enyon Tour mulai dari masyarakat menengah ke
bawah sampai dengan masyarakat menengah ke atas. Yang lebih senangnya
lagi dari para customer, mereka dapat mengenal tempat/objek wisata
dengan menggunakan fasilitas transportasi yang begitu berkelas dan mewah
dengan harga yang murah dan terjangkau.
Pada pertengahan 2008 disaat setelah
melakukan tour Ziarah walisongo, Enyon Tour tertarik dengan suatu
komunitas para penggemar bus yang bertempat di daerah Jakarta yaitu
“Jakarta Bus Society” untuk bergabung, dan gayung bersambut seraya
sekaligus pembukaan komunitas yang baru berdiri awal bulan juni
tersebut.
Dari komunitas yang idependent inilah
ternyata banyak sekali ilmu yang didapat yang didasari dengan rasa
kekeluargaan dan kental sekali dengan silaturahmi. Alhasil selain dapat
ilmu yang bermanfaat, keluarga yang baru dan dengan dorongan untuk maju
memacu hobby dan usaha.
Maka pada awal bulan Februari di lantai 2
sebuah rumah sahabat baik yaitu Wiwid Bachtiar terciptalah nama
Scorpion Holidays dibarengi dengan peluncuran website
www.scorpion-holidays.com. Tour “SCORPION HOLIDAYS” yang 100%
armadanya didukung oleh bus dari PO. Harum Group.
Di dukung berat oleh kekasih tercinta
inilah untuk mengembangkan sayap kalajengking emas ini berada di Garut
dan Bekasi dengan misi nya yaitu : Menjadi penyedia layanan pariwisata
yang senantiasa menyediakan kualitas layanan yang prima. Menjadikan
perjalanan pariwisata perjalanan yang menyenangkan. Menjadi penyedia
layanan pariwisata yang selalu mengedepankan kenyamanan dan keamanan
penumpang. Menyediakan bus pariwisata yang nyaman, mewah dan aman dengan
harga terjangkau.
Mudah-mudahan kalajengking Emas
(Scorpion Holidays) dapat memberikan layanan yang terbaik dan diterima
di tengah-tengah masyarakat.
Jazakallahu buat kedua orang tua (H.
Soekandar Ghozali dan Aie Chopsoh Dimyatie), Kekasihku tercinta (Heni
Maftuhah, S.Psi), rekan-rekan komunitas penggemar bus, dan para
pelanggan Scorpion Holidays.
Budiman
Masyarakat Priangan Timur dikenal sebagai masyarakat yang kreatif.
Banyak sudah pengusaha-pengusaha sukses yang berasal dari Tasik, Ciamis,
Garut, dan sekitarnya. Dan hebatnya, para entrepreneur tersebut
berangkat dari keprihatinan. Ada yang berasal dari penjual aci, ada juga
yang asalnya kernet angkot.
Kali ini, Kabar Priangan menyajikan
kisah sukses para pengusaha besar dari Priangan Timur. Kisah sukses dan
perjuangan mereka membangun kerajaan bisnisnya, diharapkan bisa
menjadi inspirasi bagi kita semua.
Perusahaan Otobus
Budiman saat ini menjelma menjadi salah satu perusahaan transportasi
umum terbesar di Kota Tasikmalaya. Dengan jumlah lebih dari 1.000
armada meliputi bus ukuran besar dan sedang, PO Budiman saat ini
menjadi salah satu "Raja" transportasi di jawa barat.
Perusahaan
yang melayani sekitar 100 trayek dalam provinsi hingga antar provinsi
itu menyerap ribuan tenaga kerja. Tak salah jika julukan "Kerajaan Bus"
di Priangan Timur melekat di perusahaan yang berdiri pada awal 1990 an
ini.
Dibalik gagahnya armada bus yang hilir mudik di jalanan,
terdapat sosok Saleh Budiman. Pemilik kerajaan bus itu seperti tak
kenal lelah mengurusi manajemen perusahaan yang mulai diestafetkan
kepada putra-putranya.
Sang raja yang usianya menginjak lebih
dari tiga perempat abad ini hampir setiap hari menghabiskan waktunya
mengurusi perusahaan yang berlokasi di Jalan IR Juanda Kota Tasikmalaya
itu.
Ketika "KP" hendak menemuinya, salah seorang petugas
menunjukan sebuah bangunan yang berada di bagian belakang pool bus.
Sesampainya di bangunan itu, seorang sekretarisnya pun langsung
menunjukan sebuah ruangan sederhana di bagian belakang bangunan
tersebut. "Bapak jarang didepan, biasanya suka di belakang," katanya
sembari menunjukan ruangan dekat pul bus sedang.
Ruangan yang
ditunjukan itupun tidak seperti ruangan seorang raja yang mewah.
Atapnya hanya beralaskan asbes. Ketika terik matahari di siang hari
mulai menyengat, udara di ruangan itu pun mulai menghangat. Tak ada
alat penyejuk ruangan sekalipun. Di mejanya pun banyak menumpuk kertas
coretan berbagai urusan perusahaan.

Di mata pekerjanya, ruangan
itupun dianggap lebih baik dari ruangan sebelumnya. Letak ruangan itu
memang bersebelahan dengan ruangan yang sering dipakai sehari-hari oleh
Saleh Budiman. Lagi-lagi dindingnya hanya berlapiskan bilik dan
beratapkan seng.
Lebih mengherankan lagi sosok Saleh Budiman di
mata para pekerjanya. Lelaki berusia 83 tahun ini acapkali terlihat
ikut memperbaiki bus yang masuk kandang karena perlu perbaikan. Bahkan
keperluan untuk membeli onderdilpun masih dilakukannya ketika ada waktu
luang. "Nanti saja ya wawancaranya kalau sudah salse. Sekarang mau
beli onderdil dulu," kata Saleh, singkat.
Keseharian Saleh
Budiman memang penuh dengan kesederhanaan. Menurut para pekerja yang
sering mendapatkan tugas langsung darinya, ruangan tersebut sengaja
ditempati untuk menghilangkan perbedaan antara pekerja dengan bos.
Bahkan tak jarang pula Sang "Raja" ini makan beralaskan daun pisang
bersama supir maupun mekanik.
"Waktu itu saja pernah bercerita,
makan di rumah makan mewah itu tidak nikmat. Nikmat keneh kieu
(berkumpul bersama supir dan mekanik). Bahkan ketika rapat dengan
penguruspun suka berbicara bahwa perjuangan membangun perusahaan ini
meurih," kata salah seorang sopir.
Hal itu juga tidak dipungkiri
salah seorang putranya, Dede Sudrajat. Sebenarnya ruang kerja ayahnya
itu telah disediakan dengan fasilitas lengkap beserta sekretarisnya.
Namun ruangan tersebut jarang digunakan kecuali menerima tamu-tamu dari
perusahaan dan perbankan.
"Ya memang seperti itu ruangan yang
digunakan bapak. Tidak ada karpet ataupun AC. Atapnya juga dari asbes.
Sementara ruang yang disediakan perusahaan jarang digunakan, kecuali
saat-saat tertentu," kata Dede ketika ditemui "KP".
Dede yang
menjabat sebagai Wakil Wali Kota Tasimalaya itu pun telah berulangkali
mengingatkan ayahnya supaya menggunakan fasilitas yang telah
disediakan. Ternyata, di ruangan sederhana itu memberikan kenikmatan
bekerja tersendiri bagi Saleh Budiman.
"Bapak lebih suka
berjam-jam di lapangan. Mengapa? karena sudah menikmatinya. Katanya
supaya lebih mudah membangun komunikasi langsung tanpa struktural.
Meski memiliki perusahaan besar, juga tidak berarti penuh dengan
kemewahan. Karena bapak dari dulu tidak memprioritaskan kebutuhan
barang. Pakaian sederhana, HP juga biasa. Hanya mobil saja yang
tergolong mewah. Selebihnya biasa-biasa saja," kata nya. (*)